Wisata Kuliner Khas Betawi

Tuesday, 15 August 2017 | Livia Alvita

Share:

Ibukota Jakarta sudah berumur 490 tahun. Sebagai anak-anak muda jaman sekarang seharusnya kita mengetahui suku dan budaya dimana tempat kita tinggal. Betawi merupakan sebutan untuk suku asli kota Jakarta. Selain menyimpan banyak kebudayaan, ternyata juga menyimpan banyak jajanan atau cemilan. Sejarah betawi yang begitu dinamis mempengaruhi warisan kulinernya. Makanan Khas Betawi dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, Eropa, dan Arab. Citarasa gurih dan sedap merupakan ciri rasa khas makanan Betawi yang sangat tradisional.

Sebenarnya, Betawi memiliki banyak makanan khas yang lezat. Namun, seiring perkembangan pesat kota Metropolitan Jakarta yang sekaligus ibukota negara Indonesia ini, Jajanan Khas Betawi sudah jarang kita temukan. Berkembangnya zaman membuat orang gemar dengan sesuatu yang baru. Jajanan-jajanan khas betawi kini sudah tergerus dengan jajanan modern yang merajalela. Berikut beragam jajanan khas betawi yang dirangkum oleh Koko Cici Jakarta untuk kamu.

1. Kerak telor

Siapa yang tidak tahu makanan khas Betawi yang satu ini? Kerak telor adalah makanan yang paling terkenal di Kota Jakarta.Kehadirannya seakan tidak pernah terlewat saat perayaan Pekan Raya Jakarta. Makanan ini terbuat dari bahan utama yaitu telur ayam / bebek, beras ketan putih, ebi, parutan kelapa. Disertai dengan cabai merah, kencur, jahe sebagai bumbu pelengkapnya Setelah matang, kerak telor ditaburi dengan serundeng dan bawang goreng. Mengapa dinamai kerak telor? Mungkin karena rupanya yang agak sedikit gosong ini, jajanan ini sudah ada sejak masa penjajahan oleh Belanda. Kerak telor memang sangat identik dengan Jakarta. Kerak telor banyak kita jumpai di berbagai tempat wisata di Jakarta, contohnya seperti di Kota Tua dan di Monas. Jajanan pengganjal perut ini berkisar seharga Rp.20.000 – Rp. 25.000

2. Kue Mangkok

Kue yang sekilas mirip cupcake ini adalah salah satu kue basah yang populer di Indonesia. Kue ini pertama kali diperkenalkan oleh kaum imigran Tiongkok Selatan. Bahan utamanya adalah tepung beras yang dicampur sedikit tepung terigu. tape singkong dan gula. Adonan ini, setelah diberi baking powder, kemudian dikukus. Warna merah muda yang biasa terdapat pada kue mangkok ini berasal dari pewarna alami yaitu angkak (sejenis beras berwarna merah). Jajanan ini masih dengan mudah bisa kamu temui di pasar tradisional.

3. Kue Rangi

Nah jajanan yang satu ini masih sangat mudah ditemui dan tersebar hampir di seluruh pelosok Jakarta. Kue tradisional bentuknya mirip kue pancong atau bandros yang merupakan perpaduan dari adonan parutan kelapa dan tepung kanji (orang betawi biasa menyebutnya tepung sagu) yang dibakar ini dilengkapi dengan saus gula merah sebagai pelengkapnya membuat kue rangi mantap dihidangkan selagi hangat. Adakalanya gula merah yang dikentalkan tersebut dicampur dengan potongan nangka, nanas atau durian. Rasa gula merahnya yang manis menjadi sebuah perpaduan yang sempurna dengan tekstur kelapa dan sagu yang legit. Kue rangi beraroma wangi, karena cara memasaknya dengan dibakar. Maka jadilah kue rangi hangat dan nikmat, dengan paduan rasa gurih dan manis.

4. Kue Ape

Kue berwarna hijau nyentrik ini adalah salah satu jajanan khas Betawi yang paling populer karena rasanya yang lezat dan crispy. Perpaduan rasa pandan pinggirannya yang renyah membuat kue Ape ini menjadi favorit. Konon, asal-usul nama kue Ape adalah berawal dari pertanyaan: “Ini kue ape, bang?” yang kemudian dijawab dengan, “Ya, kue ape”. Cerita ini pun belum seratus persen terjawab kebenarannya, namun kalau memang benar akan menjadi satu fakta yang unik dan menggelitik. Cukup membayar Rp. 1000,- kamu sudah bisa menikmati satu kue ape.

5. Kue Cucur

Makanan tradisional ini adalah jajanan khas Betawi. Kue cucur juga banyak kita temukan di acara adat khas Betawi, contohnya seperti di acara pernikahan dan di acara arisan keluarga. Kue cucur berbentuk bulat dan rasanya manis dan gurih. Bagian tengah kue cucur terasa empuk dan di bagian pinggirnya terasa renyah. Kue cucur dibuat dengan cara digoreng. Kenapa namanya kue cucur? Usut punya usut dari pedagang kue cucur betawi, karena cara bikinnya dengan cara meneteskan dalam jumlah banyak adonan tersebut di atas loyang. Bahasa betawinya "ngocor"; tapi oleh para pendatang dihaluskan jadi "ngucur", jadilah "cucur".

Kue sejenis ini juga terdapat di Tasikmalaya dan diakui sebagai bagian dari budaya khas Tasikmalaya. Nah, itu artinya, kue cucur ini tidak murni dari Betawi sebenarnya. Tapi bagian dari budaya yang dibawa oleh para migran yang datang ke Betawi di masa yang lampau. Tapi, tetap kini sudah dianggap menjadi milik Betawi.

6. Kue Talam

Kue talam adalah kue basah jajanan Indonesia khas budaya Betawi. Kue talam banyak kita temukan di pasar tradisional. Kue talam mempunyai rasa yang manis dan gurih. Jajanan bercitarasa legit ini terbuat dari tepung beras ketan yang dimasak dengan santan dan gula lalu dikukus. Meski jajanan ini sedikit lengket, tapi rasanya bisa membuat kita ketagihan. Dengan berkembangnya zaman, kue talam memiliki beberapa variasi. Ada kue talam rasa coklat dan ada pula rasa pandan.

7. Kue Cincin

Kue cincin adalah kue yang berbentuk bulat bolong seperti donat. Rasanya serupa dengan kue cucur namun lebih padat dan bentuknya lebih kecil. Kue ini diberi nama kue cincin karna bentuknya yang mirip cincin. Bukan cincin emas yang ramping seperti sekarang tapi cincin yang dipakai oleh encim-encim China jaman dahulu di Betawi sini. Yaitu cincin dengan body tebal karena cincin ini terbuat dari batu giok dan sejenisnya.Kue tradisional asli Betawi ini banyak kita jumpai di berbagai penjual kue tradisional. Harganya yang cukup murah dan rasanya yang enak membuat kue cincin ini banyak digemari oleh penduduk Indonesia.

8. Kue Pancong

Kue pancong adalah jajanan khas Betawi yang saat ini telah banyak dikreasikan. Sebenarnya ini masih saudara kembarnya kue rangi. Karena memang bentuk dan bahan-bahan pembuatannya sama. Bedanya, kue rangi dimakan dengan saus gula merah cair yang disiram di atas kue, sedangkan kue pancong dimakan dengan taburan gula pasir yang ditaburi di atasnya. Kue pancong banyak yang diinovasikan dengan menambahkan keju di bagian atasnya. Rasa kue pancong adalah gurih. Kue pancong sangat cocok dinikmati untuk suguhan minum kopi.

9. Kue Cubit

Kue cubit adalah jajanan khas Betawi yang enak, empuk dan lumer di mulut. Rasanya manis dan berukuran kecil sehingga sekali cubit langsung habis di mulut. Itu sebabnya diberi nama kue cubit . Kue cubit banyak kita jumpai di berbagai tempat. Pedagang kaki lima pun banyak yang mengais rezeki dengan berjualan kue cubit. Dengan berkembangnya zaman, kue cubit kini telah banyak dikreasikan dengan campuran berbagai macam bahan. Hasilnya, kue cubit kini tampil dengan banyak rasa. Ada yang rasa coklat, pandan, green tea dan lain sebagainya.

10. Kue Lupis

Mirip lamang dari Sumatra sebenarnya kue ini. Hanya saja disajikannya dalam bentuk segitiga. Bisa jadi, kue ini dibawa oleh para orang Sumatra yang mencoba peruntungan di kota Betawi tempo dulu dan melakukan penyesuaian karena sulit untuk memasak dengan cara menaruhnya di dalam bambu seperti halnya di Sumatra. Jadilah dimasak dengan membungkusnya dengan daun pisang dan cara yang praktis ya dengan bentuk segitiga. Kue lupis adalah kue yang terbuat dari beras ketan yang ditaburi kelapa dan disiram dengan cairan gula merah. Bentuk kue lupis ada yang segitiga dan ada pula yang bulat. Kue lupis juga banyak kita jumpai di berbagai macam pedagang kaki lima dan di pasar tradisional.

11. Kue Bugis Betawi

Kue bugis adalah kue yang dibungkus dengan daun pisang dan bertekstur lengket. Di bagian dalamnya berisi gula merah. Kue bugis tidak hanya kita jumpai di pedagang kue tradisional. Kue bugis juga banyak disuguhkan di acara adat Betawi, seperti acara pernikahan.Menurut pendapat saya, keberadaan Kue Bugis di Betawi adalah bagian dari pengaruh banyaknya urbanisasi ke Betawi sejak jaman dahulu kala. Ini terbukti dari keberadaan kue ini yang juga terdapat di Sumatra maupun di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bentuknya sama, rasanya sama, yang membedakan hanya cara membungkus kue ini saja di beberapa tempat.

12. Kue Cente Manis

Kue cente manis adalah jajanan yang dikukus dengan bahan yang terbuat dari tepung hunkwe, santan, gula, dan bulir cente manis alias sagu mutiara yang sudah matang. Mereka dibungkus dalam bungkus plastik lalu dikukus.

13. Kue Dongkal

Kue ini sudah jarang kita temui. Dongkal terbuat dari tepung yang berasal dari beras yang ditumpuk hingga halus. Tepung ini kemudian diisi dengan gula aren. Kue ini kemudian dibentuk seperti tumpeng dan dikukus dengan dilapisi daun pisang.

14. Kue Putu

Kue yang biasa kita jumpai saat malam hari dipinggiran kota Jakarta "NGUNGGGGGGG." Nah, itulah suara penjual kue putu yang sedang keliling mengedarkan dagangannya. Suara unik yang dia hasilkan itu berasal dari uap air yang disumbat dan hanya diberi celah kecil dari sumbatan yang terbuat dari bambu tersebut. Hasilnya, uang air yang tersumbat itupun akan keluar sedikit demi sedikit dan tekanan udaranya menimbulkan suara berdengung yang cukup keras. Kue putu sendiri adalah kue yang dikukus dalam sebuah bilah bambu lalu dimakan dengan taburan parutan kelapa.

15. Kembang Goyang

Kembang goyang merupakan jajanan yang dimasak dengan cara digoreng. Siapkan tepung beras, gula, telur, santan, minyak goreng, lalu celupkan cetakan kembang goyang ke dalam adonan kemudian celupkan ke minyak panas dan goyang-goyangkan hingga adonan lepas. Dinamakan kembang goyang karena bentuknya seperti kembang dan cara memasaknya dengan digoyang-goyangkan.

16. Dodol Betawi

Banyak daerah di Indonesia yang memiliki jajanan ini, namun masing-masing memiliki rasa khasnya yang berbeda. Dodol Betawi berwarna hitam kecoklatan dengan variasi rasa rasa yang lebih sedikit daripada dodol dari daerah lain. Rasa dodol betawi hanya terdiri dari ketan putih, ketan hitam dan durian.

17. Biji Ketapang

Kamu pasti tidak asing dengan biji ketapang. Kue kering yang digoreng ini biasanya ikut meramaikan suasana saat hari raya tiba. Kelapa parut dan santan yang digunakan untuk membuat penganan ini membuat rasanya lebih gurih.

18. Getuk Lindri

Ini jenis makanan yang terbuat dari singkong yang diparut halus, dikukus setelah dicampur dengan gula, lalu dipotong-potong dengan pisau bergalur khusus. Disajikan dengan parutan kelapa yang sudah dikukus dan diberi garam. Getuk Lindri juga bisa ditemukan di beberapa daerah di Jawa. Bisa jadi, ini bukan asli Betawi tapi budaya kuliner Jawa yang dibawa oleh para migran ke Betawi tempo dulu.

19. Wajik

Sama seperti halnya dodol, wajik ini sepertinya hasil dari akulturasi budaya para pendatang dari seluruh penjuru Indonesia ke Betawi tempo dulu. Karena, menurut saya, wajik bukan hanya dimiliki oleh Betawi saja tapi juga di banyak tempat di Indonesia. , jajanan yang terbuat dari beras ketan ini biasa kita temui di setiap acara penting masyarakat Betawi seperti perayaan hari Raya, seserahan di acara lamaran, dan pernikahan adat Betawi.

20. Sagon

Sama halnya dengan kue bugis, sagon yang dibuat dari bahan dasar kelapa parut, tepung ketan dan gula yang dipanggang ini juga merupakan kue yang menjadi bukti telah terjadinya urbanisasi ke kota Jakarta sejak jaman dahulu kala. Mungkin karena Jakarta memiliki sebuah pelabuhan laut yang di jaman penjajahan Belanda maupun Portugis dahulu dijadikan sebagai pelabuhan utama bagi lalu lintas dari dan keluar wilayah Indonesia. Jakarta juga dijadikan pusat perdagangan sejak jaman penjajahan dahulu. Itu sebabnya banyak orang-orang yang mencoba mencari peruntungan di kota Jakarta sejak jaman dahulu dan akibatnya membawa serta budaya lokal mereka. Kue Sagon kelapa keberadaannya bisa kita temukan di Sumatra, Jawa dan bahkan hingga ke Kalimantan dengan aneka macam bentuk tapi memiliki rasa dan nama yang sama di banyak tempat tersebut.

21. Leker

Ini sebenarnya bentuk adaptasi masyarakat Betawi terhadap kue yang populer di meja makan penjajah mereka, yaitu orang Belanda dan Portugis, “Crepes”. Tapi, dimodifikasi sehingga menjadi kue leker dan menjadi kue khas Betawi.

22. Ongol-ongol

Ongol-ongol kue yang bentuknya mirip agar-agar, karena terbuat dari tepung sagu, air dan gula yang dikukus dalam loyang. Dimakan dengan parutan kelapa.

23. Roti Buaya

Beralih dari Kue-kue jajanan khas betawi ke Roti yaitu Roti buaya. Roti Buaya adalah roti yang mempunyai rasa manis serta berbentuk seperti buaya. Roti buaya ini sangat identik dengan budaya Betawi. Kenapa Buaya? ceritanya Dulu di sungai Ciliwung itu banyak buayanya. Begitu banyaknya buaya yang hidup di sungai CIliwung pada jaman itu, sehingga akhirnya Masyarakat Betawi menaruh rasa hormat pada binatang melata tersebut. Mereka selalu berharap bahwa tidak ada keturunan mereka yang suatu hari nanti akan mati diterkam buaya. Tapi mereka juga berharap agar keturunan mereka bisa hidup penuh wibawa, kekuatan dan kharisma seperti halnya buaya.

Akhirnya, dibuatlah roti berbentuk buaya dan roti ini menjadi syarat yang harus ada dalam sebuah hantaran di upacara pernikahan adat Betawi, jika mempelai pria adalah orang Betawi, sang mempelai pria akan memberikan seserahan barang-barang dan tidak lupa menyertakan kue buaya di dalamnya. Roti buaya kini sudah banyak yang diperjualbelikan secara online. Dalam perkembangannya, jika dulu roti buaya hanya roti manis biasa, sekarang roti buaya ada pilihan rasa di dalamnya. Ada roti buaya isi keju, coklat, coklat-keju.

24. Roti Gambang

Sudah pernah dengar makanan ini belum? Ini makanan yang nyaris punah sebenarnya. Waktu saya kecil banyak dijual orang tapi sejak banyak orang betawi yang migrasi ke luar kota Jakarta, sudah jarang saya lihat warung-warung menjual makanan ini.Roti gambang sebenarnya sejenis dengan kue bolu, hanya saja bedanya dia tidak memakai gula putih tapi memakai gula merah sebagai pemanis makanannya. Jadilah akhirnya warnannya coklat seperti gula merah.

25. Bir Pletok

Beralih dari makanan ke minuman khas Betawi. Bir pletok adalah minuman khas Betawi. Namanya memang bir, tetapi minuman ini tidak memabukkan dan tidak mengandung alkohol. Bir peletok adalah minuman yang menyehatkan. Terinspirasi dari orang zaman penjajah Belanda yang menghangatkan badannya dengan cara mengonsumsi bir, maka suku Betawi membuat minuman yang menghangatkan dari bahan rempah-rempah. Dinamakan bir peletok karena minuman ini jika dimasukan ke dalam tempat bambu dan diaduk dengan es akan mengeluarkan bunyi “peletok-peletok.” Rasanya manis hangat dan sedikit pedas, mirip rasa bir (katanya). Akhirnya, diberi nama bir pletok. Rasa hangat diperoleh dari jahe.

26. Es Doger

Siapa yang belum pernah mencicipi es doger? Es dari Betawi ini mempunyai cita rasa yang tinggi. Campuran berbagai macam bahan, membuat es doger terlihat cantik dan menyegarkan. Bahan-bahan es doger terdiri dari ketan hitam, tapai singkong, pacar cina, susu, sirup, dan es serut. Es doger juga banyak kita jumpai di acara pernikahan, sebagai suguhan yang diperuntukan bagi tamu.

27. Es Selendang Mayang

Warna merah yang dihasilkan oleh pewarna makanan di adonan tepung beras yag dicampur dengan air santan ini memang jika diperhatikan mirip dengan selendang yang melayang di atas awan. Mirip selendang para bidadari yang turun dari kahyangan dan selendangnya melayang-layang di atas awan. Itu sebabnya diberi nama selendang mayang.Jadi, es itu penampakannya adalah: kue talam beras dengan bagian warna merah di atasnya dan bagian putih di bawahnya, dipotong tipis-tipis dengan pisau bambu (kenapa pisau bambu: karena biar bekas kue yang menempel di badan pisau tidak lengket dan mengeras. Kalo di pisau bambu lebih mudah membersihkannya, cukup direndam dengan air saja pisaunya. Tapi kalo pisau stenlis direndam di air, bisa-bisa jadi tumpul pisaunya). Setelah diiris tipis maka irisannya dimasukkan ke dalam santan cair yang sudah diberi sirup dan es batu.

28. Asinan Betawi

Apa bedanya asinan betawi dengan asinan bogor? Asinan betawi itu terdiri dari sayur-sayuran yang diasinkan (kol, sawi, wortel) lalu diberi bumbu kacang (saus kacang yang juga diberi cuka dan rasanya sedikit asin gurih manis), lalu ditaburi kerupuk kuning. Sedangkan asinan bogor hanya terdiri dari buah-buahan saja, yang diasinkan dan disuguhkan bersama dengan kuah tempat buah-buahan tersebut diasinkan.

29. Nasi Uduk

Makanan khas Betawi yang bukan cemilan atau Jajanan akan dibahas juga nih. Jika tinggal di Jakarta, nasi uduk adalah pilihan makanan untuk sarapan yang banyak dijual di setiap sudut kota Jakarta. Nasi uduk adalah nama sejenis makanan terbuat dari bahan dasar nasi putih yang diaron dan dikukus dengan santan dari kelapa yang di parut, serta dibumbui dengan pala, kayu manis, jahe, daun serai dan merica. Makanan ini kemudian dihidangkan dengan emping goreng, tahu goreng, telur dadar/ telur goreng yang sudah diiris-iris,abon, kering tempe, bawang goreng, ayam goreng, timun dan sambal dari kacang. Makanan ini biasanya lebih sering dijual di pagi hari untuk sarapan dan malam hari untuk makan malam.Pada malam hari,biasanya nasi uduk dijual di warung pecel lele,yaitu warung yang menjual nasi uduk beserta lauknya,seperti : bihun goreng, kwetiaw goreng, mie goreng , telur balado, tempe orek , tahu dan tempe goreng, ikan lele, ikan mas, ayam bakar dan goreng, dan lain lain. Nasi uduk konon sudah ada sejak abad ke-14 an dan datang melalui jalur perdagangan. Asal mulanya nasi uduk dibawa dari Tanah Melayu. Orang-orang Melayu yang ada di pulau Sumatera lalu berhijrah ke pulau Jawa. Ada banyak pendapat mengenai asal nama nasi uduk. Beberapa menyebutkan bahwa nasi uduk berasal dari bahasa Sunda ‘uduk’ yang artinya bersatu atau bercampur. Tapi ada juga yang bilang kalau nama ‘uduk’ ini secara etimologi memiliki arti kata ‘susah’. Memang benar, dulu nasi uduk identik dengan makanan yang dijual di gerobak-gerobak dan hanya bisa dijumpai di pasar saja.

30. Nasi Ulam

Tidak jauh beda dengan nasi uduk, nasi ulam juga sering kita jumpai di Kota Jakarta untuk pilihan sarapan pagi. Nasi ulam adalah hidangan nasi yang dicampur berbagai bumbu dan rempah, khususnya daun pegagan atau kadang diganti daun kemangi, sayuran, dan berbagai bumbu, serta ditemani beberapa macam lauk-pauk. Hidangan ini berasal dari khazanah hidangan Melayu, dan terdapat banyak resep dan variasi yang ditemukan baik di Indonesia maupun Malaysia. Di Indonesia, nasi ulam dapat ditemukan dalam seni kuliner suku Betawi, ataupun suku Melayu di Sumatra, serta ditemukan juga di Bali. Nasi ulam Betawi terdapat dua jenis, nasi ulam berkuah (basah) yang berasal dari Jakarta Utara dan Pusat, serta nasi ulam kering (tidak berkuah) yang ditemukan di Jakarta Selatan. Di Indonesia nasi ulam biasanya dicampur daun kemangi, sambal, dan ditaburi kacang tanah tumbuk, kerisik, atau serundeng (kelapa parut sangrai). Di atas nasi ulam biasanya ditambahkan berbagai macam lauk-pauk teman nasi, seperti dendeng, telur dadar, perkedel, tahu goreng, tempe, dan krupuk.