Cheng Beng: Festival Ziarah Kuburan

Tuesday, 15 August 2017 | Kenny Hutomo

Share:

Peringatan Chengbeng di beberapa negara di Asia dinilai memiliki arti penting sebagai salah satu tradisi bagi masyarakat Tionghoa. Hal ini, karena pada momen inilah seluruh anggota keluarga berkumpul bersama menghormat dan memperingati leluhur mereka. Oleh karena itu, tidak jarang peringatan Chengbeng yang jatuh pada 5 April, mengikuti tahun masehi diperingati sebagai hari libur nasional selama beberapa hari. Di Indonesia sendiri, tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat Tionghoa sebagai tradisi turun temurun meskipun berbeda keyakinan. Namun demikian, ada juga orang Tionghoa yang sudah tidak menjalankannya lagi, dikarenakan keyakinannya tidak mengizinkan atau tidak lagi diturunkan oleh orang tuanya.

Chengbeng sendiri berasal dari bahasa Hokkien dan juga kerap dinamai Qingming dimana Qing (bersih atau jernih) dan Ming (terang atau cemerlang) diharapkan pula dapat terwujud dalam perjalanan keluarga almarhum, sehingga dapat memuliakan nama orang tua dan atau leluhurnya. Nama tersebut menandakan waktu untuk orang pergi keluar dan menikmati hijaunya musim semi dan juga ditujukan kepada orang-orang untuk berziarah kubur. Bagi masyarakat Tionghoa, perayaan ini dilakukan untuk mengingat dan menghormati nenek moyang. Setiap orang berdoa di depan nenek moyang, menyapu pusara dan bersembahyang dengan makanan, teh, arak, dupa, kertas sembahyang dan berbagai asesoris, sebagai persembahan kepada nenek moyang.

Berbicara mengenai tradisi, tentunya memiliki sejarah yang panjang dan unik. Sama halnya dengan tradisi Chengbeng yang awalnya diciptakan oleh Kaisar Xuan Zong pada tahun 732 (Dinasti Tang) sebagai pengganti upacara pemujaan nenek moyang dengan cara terlalu mahal dan rumit. Oleh karena itu, Kaisar Xuan Zong mengumumkan penghormatan tersebut cukup dilakukan dengan mengunjungi kuburan nenek moyang pada hari Chengbeng. Kemudian, tradisi ini tetap bertahan sampai sekarang dan menjadi salah satu upacara penting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia.

Saat ini perayaan Chengbeng dengan mengunjungi makam beserta membawa makanan dan minuman yang diletakkan di depan makam, serta bersembayang dengan menggunakan hio (dupa) sudah mulai berkurang. Pada pemakaman Kristen atau Katolik, hal tersebut sudah tidak dilakukan, biasanya hanya sebatas berdoa dan menabur bunga saja. Faktor lain yang menyebabkan hal tersebut adalah semakin beragamnya ritual kematian. Contohnya, ada orang yang saat meninggal tidak dimakamkan, tetapi dikremasi. Abu jenazah ini adalah tulang-tulangnya yang dikumpulkan kemudian ditumbuk dan dimasukkan ke dalam kantong kain, lalu dimasukkan ke dalam guci. Oleh karena itu, penghormatan dilakukan dengan melakukan sembayang di depan abu jenazah diteruskan dengan menaruh aneka persembahan untuk leluhur. Selain itu, sebagian masyarakat Tionghoa juga melakukan sembayang di rumah sendiri dan juga meletakkan aneka makanan di depan foto leluhurnya.

Sepertinya tradisi-tradisi Tionghoa lainnya, tradisi Chengbeng ini memiliki makna yang dapat dipetik bagi kita semua. Pesan yang ingin disampaikan dari tradisi ini, adalah mengingatkan kita sebagai manusia untuk berbakti kepada orang tua atau leluhur meskipun mereka sudah meningga dunia. Selain itu, melalui tradisi ini keluarga juga berkesempatan untuk kembali mengikat tali silahturahmi antar kerabat dengan pulang ke daerah masing-masing atau bersama-sama mengunjungi makan dan bersantap bersama. Intinya, dapat disimpulkan bahwa tradisi Chengbeng menopang pilar-pilar budaya Tionghoa, yaitu penghormatan leluhur, kekerabatan, keharmonisan, berbakti, dan juga kebersamaan. Oleh karena itu, tradisi Chengbeng ini patut untuk dapat diteruskan dari generasi ke generasi, sehingga generasi pengurus diharapkan juga dapat menghormati leluhurnya dalam bentuk menjaga nama baik leluhur dalam sikap dan perilaku keturunannya di masyarakat.